Pengalaman ijab qobul suami saya

13 Apr

It’s been awhile saya ga nulis apa apa…
Sebenarnya saya mau update serentetan rangkaian adat upacara pernikahan saya yang alhamdulillah udah sah hari Minggu, tanggal 10 Februari 2013 kemarin. Namun, rasanya kurang lengkap kalau tidak disertai foto foto ya. Maklum, fotonya belom jadi -_-
Jadi, sepertinya kali ini saya cuma akan bercerita dikit tentang pengalaman ijab qobul suami saya dan pengalaman papa saya saat menjadi wali nikah untuk anak pertamanya ini.

Upacara pernikahan kami dilangsungkan dengan penuh hikmad dengan menggunakan adat Bugis-Makassar yang merupakan adat dari keluarga saya, seperti yang telah di setujui kedua belah pihak keluarga saat acara lamaran sebelumnya.Akad nikah dilaksanakan pada pukul 11pagi yang kemudian dilanjutkan dengan acara menjemput pengantin wanita, sungkeman dan menuju ke pelaminan untuk acara resepsi.
Acara kami diselenggarakan dalam satu hari saja, namun beberapa hari sebelumnya dari pihak mempelai wanita, saya harus menjalani beberapa prosesi adat, which is “dipingit” kalau kata orang secara umum.

Di hari yang sangat mendebarkan itu, saya sudah duduk cantik di kamar pengantin, menunggu (calon) suami saya melafalkan ijab qobul. Dalam adat kami, pada saat ijab qobul, pengantin wanita harus menunggu di kamar pengantin, tidak boleh berada di tempat ijab qobul. Sayangnya, speaker yang seharusnya ada di kamar pengantin itu tidak bisa digunakan, jadi saya semakin harap harap cemas dan bertanya tanya apakah ijab qobul sudah selesai ataukah belum. Untunglah salah seorang keluarga berinisiatif untuk membuka pintu kamar agar kami bisa mendengar prosesi akad nikah tersebut.

Saya sangat terharu mendengarkan suara papa saya yang bergetar bahagia bercampur haru menuntun (calon) suami saya melafalkan ijab qobul. Dalam satu nafas, alhamdulillah ijab qobul terucapkan dan kami pun sah menjadi sepasang suami – istri. Kemudian, dalam hitungan menit pintu kamar pengantin diketuk perlahan. Akhirnya suami saya datang menjemput. Saat melihatnya pertama kali, saya langsung merasa sangat bahagia. Jika mendengar cerita orang ada yang menangis terharu saat menjalani prosesi itu, tidak sama dengan saya. Justru saya sangat bahagia. Saya tidak bisa berhenti tersenyum. Tidak ada yang bisa membayangkan betapa bahagianya saya hari itu. Untuk pertama kalinya, saya melihat wajah suami saya begitu cerah dan… Ehm.. Ganteng. Kemudian, mata kami bertatapan lalu kami berbagi senyuman seakan sama sama berkata “finally…”

Dibalik kisah membahagiakan itu, suami dan papa saya bercerita keesokan harinya mengenai prosesi akad nikah tersebut. Papa saya sempat berbisik kepada mama saya bahwa beliau khawatir tidak akan sanggup menjadi wali nikah. Papa merasa terlalu sedih melepaskan anak sulungnya, tapi beliau ikhlas. Hanya saja merasa tak mampu mengucapkannya. Beliau khawatir akan merusak prosesi akad nikah jika beliau terbatabata dalam menuntun ijab qobul. Akhirnya semua pihak setuju, papa saya tidak menjadi wali, digantikan oleh kakak papa saya.
Detik detik datangnya mempelai pria, papa saya berubah pikiran dan memberanikan diri untuk menjadi wali nikah. Kata papa, “wah, ini cuma terjadi sekali seumur hidup. anak perempuan pertama saya yang menikah masa saya ga berani jadi wali nikahnya? Ah, saya harus bisa.” Begitulah yang diceritakan papa saya. Akhirnya dengan penuh keberanian, papa sayalah yang menjadi wali nikah saya. Beberapa pihak keluarga yang tidak tau tentang keputusan tibatiba papa saya tentu sangat kaget melihat papa saya duduk berhadapan dengan (calon) suami saya saat itu. Saat prosesi ijab qobul dimulai, tanpa sadar semua orang menahan nafas antara tegang dan khawatir hingga akhirnya dikatakan sah, barulah semuanya menghela nafas lega. Papa saya berhasil!!! He’s the man!

Selain itu, lain lagi cerita dari suami saya. Malam sebelumnya dia masih belum merasa gugup. Ia yakin bisa dengan lancar mengucapkan ijab qobul. Ia sudah berlatih dan menghafalkannya semalaman. Namun, pada saat sudah duduk berhadapan dengan papa saya, barulah ia sadar bahwa inilah saatnya. Saat bersalaman dengan papa saya, ia mengaku sangat tegang. Tangannya dan papa saya sama sama bergetar saat ijab qobul dilafalkan. Bahkan mereka berdua seakan saling mencengkram secara tidak sadar karna tegang. Alhamdulillah, ketegangan itu tidak menganggu sama sekali.

“Tangan bapak udah keringetan, tangan saya juga keringetan. Terus bapak malah nekennya kenceng banget, pengen mengeluh sakit tapi di depan ada mic, trus kamera ada dimana mana, ya jadi saya senyum aja terus padahal ikutan gemetar tangannya diatas meja itu pak.”

“Iya, saya juga ga sadar itu soalnya udah tegang banget. Aduh, khawatir banget saya ga bisa. Tapi alhamdulillah semuanya lancar ya nak.”

Begitulah, saat papa dan suami saya menceritakan saat saat akad nikah kepada saya. Kami terus membahas proses pernikahan itu hingga saat mengantar ayah saya ke mobil untuk segera menuju ke bandara.

Bahagia itu sederhana.

Tuhan selalu memiliki rencana dalam menyatukan dua buah keluarga, bahkan kami yang berasal dari pulau yang berbeda.

Annisa Bisma

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: